Jika kita mendengarnya maka kata yang muncul pertama kali mungkin adalah berfikir. Hal ini tidaklah salah walau kita sering lupa apa makna sebenarnya. Kata ini berasal dari Yunani yakni Philo dan Sophia yang berarti cinta dan kebijaksanaan. Dua hal ini seharusnya bagai belah mata uang yang tak mungkin terpisahkan.
Cinta bukan hanya dimaknai dengan nafsu, bangga, dan memiliki namun cinta harus mewujud pada rasa tanggungjawab. Begitulah perintah Allah pada Nabi yang terukir dalam alquran “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (3;31).
Sehingga cinta bukan lagi harus dipendam, karena hal yang paling ditakuti ketika mencintai sesuatu adalah jika ternyata cinta itu hany bertepuk sebelah tangan. Mengikuti Nabi berarti menjadi manusia yang dekat dengan Allah dan dekat dengan manusia itulah seharusnya.
Dan yang kedua adalah kebijaksanaan. Tentu yang teringat adalah pemimpin, maka tak heran setiap pemimpin dituntut untuk bijaksana yakni mengerti apa yang diinginkan oleh para rakyatnya dan mampu memberi apa yang mereka inginkan. Bukan materi, karena itu bisa diusahakan sendiri namun teladan, bimbingan serta keputusan yang adil itulah yang lebih diharapkan. Bijkasana adalah adil dan adil adalah mempu meletakkkan sesuatu pada tempatnya dan yang melakukan sebaliknya itulah kedzaliman.
Sehingga dalam pengertian dasar filosof ialah pemilik cinta dan dengannya ia mampu berbuat bijak pada yang lain. Bukan cinta yang berdiri sendiri, karena cinta tak jarang hanya muncul karena nafsu, memilki bahkan menguasai. Ataupun cinta yang larut pada keheningan, ketermenungan dan kesendirian dimana sering terjadi pada kaum pengembara cinta Allah atau sufi dan ternyata karena cintanya justru seolah menjauhkan diri pada manusia. “Manusia dihiasi dengan rasa cinta”, begitu fitrah manusia dalam quran (4;14) maka sekejam-kejamnya manusia pasti memiliki cinta pada sesuatu. Namun jarang yang mengerti apa yang dilakukan setelah cinta?
Dan bukan pula kebijaksanaan yang berdiri sendiri karena ia tak mungkin muncul tanpa rasa cinta. Patutlah apa yang di sebut nabi di akhir-akhir nafasnya yakni Ummatii-Ummatii begitulah rasa cinta rosulullah yang juga muncul dalam kebijaksanaannya dalam hidup. Dialah filosof sebenarnya yang bukan hanya berfikir dan berhenti, namun berfikir guna memunculkan kebijaksanaan dalam aktifitasnya sebagai wujud cinta yang dimiliki dengan penuh tanggungjawab kepada Allah yang maha mencintai. Wallahu a’lam
Diposkan oleh astraimm.blogspot.com di 05:20
Fastabiqul khairaat.........
Jumat, 03 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar